CERPEN : Auroraku Kehilangan Cahayanya


*Kringgg kringgg*
Bel sekolah terdengar memekikkan telinga, nada panjang yang hanya terdengar dua kali membuat bibir para remaja ini menekuk diikuti dengan helaan nafas. Dua kali berarti kembali ke kelas, meneruskan pelajaran yang tak seorangpun tau apa esensinya. Hentak kaki yang semakin memperjelas ketidaksukaan hampir seluruh penghuni gedung yang sekali lagi terkena harapan palsu. Sungguh pulang cepat hanyalah mitos belaka.

Aku yang sama sekali tak peduli dengan kebijakan sekolah lebih memilih melanjutkan tugas praktik seni budaya dari Pak Alam, kanvas dan peralatan lukis lainnya tergeletak di atas meja kayu dengan cat pernis coklat tua yang sudah usang dimakan usia. Hari ini matahari tepat di atas kepala, disertai dengan AC kelas yang mati tentu saja setan-setan mulai menggoda anak manusia untuk tidak kembali menuju markas mereka. Saat ini Jakarta menunjukkan pukul 2 siang, dengan  AC kelas yang hanya jadi pajangan semata, aku kembali merapatkan jaketku dan melanjutkan apa yang sedang aku kerjaan. Tak ada satupun manusia yang menggunakan jaket di kelas ini, setidaknya saat kondisi ruangan yang tak ada bedanya dengan tungku pembakaran. Otot bibirku menarik membuat sebuah senyuman kecil, aku bersyukur setidaknya ini lebih baik untukku, aku tak akan mati dengan kondisi seperti ini.

Ah iya, tugas Pak Alam, sudah beberapa jam setelah Pak Alam menyampaikan tugas yang harus kami kerjakan, kanvas di depanku masih putih bersih, hanya saja ada noda hitam di bagian tengahnya,  aku tak sengaja menumpahkan cat di atas kanvasku. Belum terlintas apa yang harus aku lakukan dengan kanvas ini, yang kulakukan hanya mengingat-ingat kembali lukisan seperti apa yang diinginkan Pak Alam.

"Anak-anak tugas seni budaya kali ini adalah melukis, tema lukisannya adalah 'Aku dan Impianku'. Kalian diberi waktu 3 hari untuk menyelesaikan tugas ini. Setelah itu kalian akan mempresentasikan makna lukisan kalian di depaan kelas. Kanvas dan peralatan cat lainnya sudah tersedia di koperasi, selamat mengerjakan." Suara Pak Alam saat menjelaskan detil tugas terngiang di kepalaku.

"Aku tak punya impian, tidak, aku takut untuk memilikinya. Tak mungkin bisa kulakukan." Celotehanku berakhir seperti sebelum-sebelumnya. Aku menghentikan otak ku untuk berpikir, lalu segera memasukan kanvas dan peralatan lainnya ke dalam tas, aku tak mau memikirkannya.
***
Kali ini bel berbunyi tiga kali, berbeda seperti sebelumnya, bibir yang tadinya mengkerut kali ini menampakan lengkungannya yang menawan. Tiga kali berarti kelas selesai, saatnya siswa-siswi pulang dan melanjutkan kesenangan yang tertunda. Aku merapikan buku yang masih kuletakkan di kolong meja, dan segera memasukkannya ke dalam ransel hitamku. Aku berjalan menelusuri koridor sekolah sambil sekali lagi merapatkan jaketku. Aku berjalan agak cepat karena ibuku pasti sudah menunggu di pintu gerbang. Jarak antara kelas dan gerbang sekolahku tidak begitu jauh, sesuai dugaanku sesampainya di gerbang aku melihat ibu melambaikan tangan di balik jendela mobil. Aku membalasnya sambil tersenyum, dan segera memasuki mobil sebelum klakson-klakson mobil di belakang mengeluarkan suara merdunya.

Langit Jakarta  memang tidak pernah kehilangan cahayanya, aku melihat layar Hanphone ku, pukul 16.00 dan matahari masih membakar siapapun yang dinaunginya, ia belum sudi meredupkan cahayanya, aku menengok ke sampingku, samar-samar ku lihat keringat menetes melalui dahi ibuku.
"Bu, nyalain aja AC mobilnya nya. Aura duduk di belakang aja lagian udah pake jaket, aman." Tanganku menggapai tombol AC mobil dan bergerak untuk menyalakannya, tapi sebelum itu, ibu sudah menepis tanganku.

"Aura, Ibu cuma kegerahan sebentar doang, tadi sebelum sampe udah ibu nyalain, emang suhunya lagi ekstrem nih, kayaknya mau ganti musim hujan deh. Kalo kamu udah muncul gejala sebelum musim hujan nanti gimana, kamu harus jaga tubuh kamu, Ra. Kamu kan tau ka-"

"Iya, Aura tau, ma. Udah ngga usah di bahas." Lanjutku menutup pembicaraan.

Aku mengalihkan pandanganku keluar jendela, pikiranku kembali melayang entah kemana, seharusnya aku tidak marah ketika orang lain membahas penyakitku, apalagi ibu. Aku tau ibu jauh lebih menderita harus merawatku terus menerus, 5 tahun bukan waktu yang sebentar, dan tentu saja membutuhkan  biaya yang tidak sedikit untuk membuatku seperti sedia kala. Walaupun aku juga tau orangtua ku tak pernah mempermasalahkan perihal keuangan, apapun yang bisa ia lakukan untuk membuatku bahagia, tak akan berpikir dua kali untuk mengabulkannya. Sungguh, jika malaikat bisa turun ke bumi, aku yakin ibu ku salah satunya. Malaikat tak bersayap benar adanya, aku menemukan satu, sedang duduk di sampingku.

“Loh sudah sampe, cepet banget,” tiba-tiba mobil yang dikendarai ibu sudah terparkir rapih. Aku mengamati sekitarku, ini jelas bukan rumahku.

“Ibu mau belanja bahan-bahan dulu, udah pada habis. Kamu mau nitip apa?.”

“Aura mau nitip dimsum yang di sebelah tukang kacamata-kacamata itu aja, Bu.” Ibu mengangkat dua jempolnya tanda menyetujui.

Aku mengamati sekitarku, melalui jendela mobil. Iya berhubung aku tak bisa masuk ke dalam, yang kulakukan ketika ibu belanja hanyalah duduk di mobil, dengan jendela yang sedikit terbuka untuk mempersilakan udara melewatinya. Supermarket ini sangat ramai, pasti  karena awal bulan. Dari tempatku memata-matai, aku bisa melihat ada anak laki-laki dengan tas spidermannya sedang berlari mendekati pintu masuk otomatis, kurasa ia ingin melihat seberapa cepat sensor pintunya terbuka. Tak hanya sekali, ia melakukannya berulang kali. Di sisi pintu yang lain ada sekelompok anak remaja yang masih mengenakan seragam sekolah, sama sepertiku. Mereka saling berbincang dengan tangan kanan memegang minuman dan tangan kiri menjinjing plastik belanjaan.

Aku tersenyum, mengamati orang-orang sudah menjadi hobiku. Mungkin aneh untuk beberapa orang, tapi dengan mengamati kejadian di sekitar, aku lebih bisa menghargai hidupku. Meskipun, terkadang aku sangat ingin dengan mereka yang bisa jajan es krim sepuasnya, tidur dengan AC yang menyala sepanjang malam, atau sekadar menikmati rintik hujan di depan rumah. Saat ini aku tak bisa lagi melakukannya, tak peduli sesuka apa aku dengan hujan, minuman dingin, ataupun udara AC yang berhembus. Aku kembali mengalihkan pandanganku, kulihat ibu membawa beberapa plastik belanjaan, aku langsung menghampiri ibu.

“Sini, bu. Aura bantuin,”

Ibu memberiku dua plastik, dan mebiarkan dua plastik lagi dibawanya. Aku sempat heran mengapa banyak sekali belanjaan ibu, setelah ku amati banyak sekali makanan ringan, aku tersenyum, ibu memang tau kesukaanku. Kami kembali ke mobil dan langsung menuju rumah, tak lama kami sampai dan ibu memarkirkan mobilnya di garasi rumah. Aku segera menaruh belanjaan di dapur, lalu menaiki tangga menuju kamarku. Kamar bernuansa biru muda dengan langit-langit yang dipenuhi lukisan Aurora Borealis. Tak banyak yang bisa dilihat dari kamarku, hanya tempat tidur, lemari, dan meja belajar, serta satu pigura yang menampilkan foto keluarga. Alih-alih kipas angin atau AC, kamar kecilku berhiaskan penghangat ruangan untuk penylamatku saat musim hujan.

Aku  mendaratkan tubuhku ke atas kasur dengan seprai berlatar salju, Aurora Borealis mulai menari di langit-langit kamarku, selalu ada rasa menggelitik takjub tiap kali aku memandangi salah satu fenomena langit terbaik di bumi ini. Aurora, seperti namaku. Eh atau namaku yang seperti namanya. Baiklah ku akui aku yang meniru, Aurora itu pasti sudah hidup jauh lebih lama dariku. Andai kami bisa bertemu, aku akan berteriak dan mengatakan betapa cantiknya ia, dan aku ingin berterima kasih telah memberikan cahaya pada langit yang gelap, terima kasih telah membuat banyak orang tersenyum takjub dan melupakan sejenak beban di pundaknya. 

Seprai bertema salju, dengan nuansa cahaya langit utara. Ya, aku penggemar berat suasanya eropa dengan musim saljunya yang menusuk persendian. Menetap selama 16 tahun di negara tropis dengan suhu hangat sepanjang tahun, menjadi salah satu alasanku sangat ingin merasakan partikel-partikel es yang turun dari langit. Selain itu, animasi favoritku saat kecil menceritakan seorang ratu yang memiliki kekuatan es dan mendirikan istananya sendiri tentu saja semuanya terbuat dari es,  ia mendirikan istananya di kawasan kutub, di mana tempat dengan suhu paling rendah di muka bumi ini. Tak sampai situ, kekagumanku dengan sesuatu yang dingin membawaku menemukan fenoma langit yang sangat mengagumkan, Aurora Borealis. Semenjak itu aku tak pernah berhenti memutar video yang menunjuka kehebatan Aurora Borealis, seperti sihir yang membawaku melupan segala sesuatu.

 “Aurora,” 

“impian,”

“lukisan,” 

“haruskah aku?”

Aku segera mengeluarkan sesuatu dari ransel hitamku,  memandanginya dengan seksama, yang kulihat hanya lembar putih dengan lingkaran hitam di bagian tengahnya. Aku tersenyum, noda hitam di atas lembar putih ini tak selamanya buruk. Tak perlu menunggu, aku segera mempersiapkan alat tempurku, ku tumpaahkan cat hitam leih banyak, dan segera ku sapukan ke seluruh bagian. 

“Begini lebih baik bukan, tak perlu susah-susah mengahapus nodanya, aku hanya perlu memperbaikinya,” celotehku seorang diri.

Kuas di tanganku mulai memainkan perannya, cat warna-warni pun ikut turut serta. Ku lakukan beberapa teknik untuk untuk membuat lukisanku tampak nyata. Walaupun aku belum pernah melihat wujud aslinya, setidaknya sampai saat ini seperti inilah Aurora yang ku tau. Sungguh menyenangkan mengerjakan sesuatu yang kita sukai, tak sadar sudah berjam-jam aku terlarut oleh hamparan Aurora yang kini tak hanya ada di langit-langit kamarku. Sampai-sampai kuas dengan tinta warna kini sudah berada di tangan, baju, sampai wajahku.
***
Lukisanku selesai tepat pada waktunya, 3 hari telah berlalu, hari ini adalah jadwal untuk mempresentasikan hasil karyaku dan teman-teman. Kami saling bertukar pandang melihat lukisan satu sama lain. Kelas dimulai 10 menit lagi. Aku dan teman-temanku mempersiapkan diri untuk memulai presentasi. Akupun kembali mengingat-ingat hal apa yang harus sampaikan.

10 menit telah berlalu, bel sekolah terdengar di seluruh penjuru ruangan. Sebentar lagi Pak Alam pasti akan datang, kelasku berdampingan dengan ruang guru. Hanya perlu beberapa langkah untuk sampai ke kelasku, bahkan aku bisa melihat ruang guru dari jendela ruang kelasku. Ah benar saja,

“Pagi anak-anak.” Pak Alam memasuki ruangan dengan baju batik dan pengikat kepala yang menjadi ciri khasnya.

“Bapak lihat sepertinya sudah selesai semua lukisannya, langsung saja ya kita mulai presentasinya supaya semuanya kebagian,” jelas Pak Alam sambil membuka daftar kehadiran.

Pak Alam memutuskan presentasi di mulai dari nomor absen 1, selalu begini, batinku. Aku yang memiliki nama dengan abjad paling awal tak mungkin punya waktu lebih untuk persiapan, hanya terpaut dua orang, didahului oleh Abigail lalu Agung, kemudian nomor 3, Aurora. Abigail memulai presentasinya, kanvas yang ia lukis kini terlihat oleh seluruh penjuru kelas, menampakan seorang wanita dengan pakaian yang anggun sedang berpose, dengan sekitarnya terlihat siluet-siluet penonton yang sedang duduk memperhatikan. Model. Abigail selalu bercerita ia ingin sekali menjadi model, dengan tubuhnya yang semampai dan paras yang tak ada duanya, serta pakaian yang sangat fashionable, bahkan saat mengenalkan seragam sekolahnya pun ia sudah terlihat seperti model. Ia mulai menjelaskan awal keinginannya menjadi model dan kegigihannya mengikuti beragam lomba fashion show. Di akhir presentasi tak lupa ia meminta doa, supaya mimpinya bisa terkabul. Kami mengamini, dengan sangat tulus. Presentasi Abigail ditutup dengan tepuk tangan yang meriah.

Selanjutnya, Agung. Pemain sepak bola, aku menebak. Sudah pasti, lukisan lapangan sepak bola lengkap dengan 11 pemain, wasit, dan penontonnya.  Agung memulai presentasinya, 

“Impianku menjadi pemain sepak bola, namun sepertinya aku tak ditakdirkan untuk itu, sesuatu terjadi saat aku kecil, pergelangan kaki ku tak bisa melakukan aktifitas fisik yang berat. Terapi dan pengobatan sudah ku lakukan, namun tak kunjung ada hasilnya. Aku sangat mencintai dunia sepak bola, tak ingin kehilangannya meski kondisi kakiku tak memungkinkan. Saat ini aku hanya bisa menjadi supporter, dengan itu aku tetap bisa merasakan suasana lapangan pertandingan, bersorak senang, dan bersedih saat kalah.” 

Aku tersentak, tak kusangka teman sekelasku memiliki kisah hidup yang sama sepertiku. Kami berdua sama-sama menyembunyikannya, meski mungkin banyak yang bertanya-tanya. Seperti aku yang suka heran mengapa Agung tak bernah ikut bermain bola bersama teman laki-lakinya, dan mengapa setiap praktik olahraga tak pernah terlihat batang hidungnya. Ternyata ini sebabnya.

Giliran Agung sudah selesai, Pak Alam melanjutkan untuk memanggil nomor selanjutnya, absen nomor 3, Aurora. Aku menyiapkan lukisanku, tak lupa meyakini diriku sendiri bahwa aku bisa melakukannya, meski tanganku tak dapat dapat berbohong, sejak 5 menit yang lalu mereka mulai bergetar tak karuan.

Aku menunjukan lukisanku di depan kelas, menampakkan langit hitam dengan cahaya hijau yang mendominasi, diikuti dengan guratan ungu dan biru. Aku memulainya, 

“Namaku Aurora, seperti yang kalian tau. Lukisan yang kalian lihat juga bernama Aurora. Suatu fenomena langit yang hanya bisa dilihat saat tak ada cahaya dan polusi udara di sekitarnya. Tak sembarang juga, ia hanya muncul di saat-saat tertentu semaunya. Impianku adalah bertemu dengannya, memandanginya langsung tanpa terhalang layar elektronik. Bukan impian yang tidak mungkin dilakukan, kamu bisa pergi melihatnya jika kamu mau dan memiliki kesempatan. Tapi berbeda dengan ku, tak peduli seberapa ingin aku menemuinya, aku tak akan bisa. Cold Urticaria, kata dokter itu namanya. Ketika tubuh menolak segala sesuatu yang dingin, entah suhu, cairan, atau apapun yang memiliki temperatur rendah. Sejak umurku 5 tahun, aku tak pernah merasakan udara dingin, tak pernah pula mencoba jajanan kesukaan semua orang, Es Krim. Tubuhku mulai mengeluarkan ruam-ruam merah saat terpapar suhu AC, dan dampak paling parah aku bisa pingsan dan jika terus berlajut terpapar suhu dingin, mungkin aku bisa kehilangan nyawa. Mungkin kalian heran, mengapa aku tak pernah terganggu dengan ruangan kelas yang seperti tungku pembakaran ini, itulah alasannya,” 

aku mulai bercerita sambil sesekali tertawa kecil, aku tak ingin menjadikan presentasiku berakhir dengan drama.

“Walaupun aku tak yakin apakah bisa mewujudkan impianku, aku tetap melakukannya, aku terus bermimpi. Aku terus berusaha memercayai bahwa tak ada yang tidak mungkin di dunia ini, semua mimpi tak ada yang salah, semua mimpi sama bagusnya. Selama aku masih hidup di bumi ini, aku tetap akan menggantungkan mimpiku setinggi langit, bahkan melampauinya. Aku percaya itu, dan kalian pun harus. Sekian dari saya, terima kasih.” 

Aku menutup presentasiku. Menarik napas panjang dan kembali ke tempat duduk. Mimpiku, tak peduli seberapa mustahilnya itu, aku tetap akan memperjuangkanmu. Sampai bertemu Aurora, ku yakin kelak ada saatnya.

Komentar

Postingan Populer